Membebaskan dari Stigma & Diskriminasi Menuju Kualitas Hidup yang Layak
Ketika orang mendengar kata Kusta, maka yang terbayang adalah seorang yang bertubuh lusuh, kumuh, dan miskin. Penyakit Kusta selalu dilekatkan dengan kondisi yang negatif dan kemiskinan. Bahkan banyak orang beranggapan bahwa Kusta merupakan penyakit turunan dan penyakit kutukan yang disebabkan oleh tindakan pelanggaran norma sosial dan agama yang dilakukan seseorang. Sejak masa Sebelum Masehi (SM) orang yang mengalami Kusta selalu dihujat dan disingkirkan dari pergaulan masyarakat.
Pada tahun 2006 program pengendalian kusta di beberapa propinsi di Indonesia sudah mencapai eliminasi sesuai dengan standart WHO (ditemukan kurang dari 1 penderita baru/10.000 penduduk) dan hasilnya penemuan penderita baru sudah mulai menurun setiap tahun. Meskipun jumlah penderita baru semakin menurun setiap tahunnya, tetapi penyakit kusta masih menyisakan permasalahan social. Sebagian besar orang yang pernah mengalami kusta hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Hal ini terjadi dikarenakan masih kuatnya stigma dan perilaku diskriminasi yang dialami oleh mereka di tengah kehidupannya bersama masyarakat.
Berangkat dari keprihatinan tersebut maka tepatnya pada tanggal 15 Februari 2007 bertempat di Wisma PGI Jalan Teuku Umar No 17 Jakarta Pusat, 12 perwakilan orang yang pernah mengalami kusta dari Jawa Timur, NTT, dan Sulawesi Selatan bersepakat untuk mendeklarasikan berdirinya Perhimpunan Mandiri Kusta (PerMaTa) Indonesia. PerMaTa Indonesia diharapkan dapat menjadi wadah penyaluran aspirasi orang-orang yang pernah mengalami kusta dalam menyuarakan hak azasinya.





Jika Anda menemukan bercak merah atau putih pada kulit anda dan bercak tersebut tidak terasa gatal, maka segeralah berkunjung ke Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan
RSS Feed